Tampilkan postingan dengan label Short-Fiction. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Short-Fiction. Tampilkan semua postingan

Ia dan Dia

19 Januari 2014

Awalnya, semua ini akan dia akhiri dengan sesuatu yang eksekusi-nya terasa begitu cantik, seperti :
Boleh aku pinjam lagi hatimu? [sender: ia] 
Maaf, sudah ada yang meminjam nya. ━ [sender: dia]
Kenyataannya, dia masih belum bisa mengakhiri sebagaimana mestinya.

Mengakhiri ia bukanlah perkara gampang, apalagi karena ia tidak pernah benar-benar hilang. Karena pada akhirnya ia akan datang dan dia akan selalu menerima ia dengan begitu lapang.
Karena tidak pernah ada penyelesaian, bayangan dari akhir selalu terasa samar.
Namun pertanyaan sebenarnya bukan tentang bagaimana mengakhirinya, melainkan ada pada kontradiksi dari suatu penyelesaian—bagaimana mungkin menyelesaikan sesuatu yang tidak pernah dimulai?

Baik, mungkin ini absurd.
Bicara tentang permulaan, pertemuan ia dan dia berawal pada sepotong malam. Mereka bertemu pada malam begitu gelap, gelap hingga membuat dia tak dapat menemukan jalan pulang, kebingungan meniti langkah menuju rumah. Dia lantas bertemu ia yang datang menawarkan pundak untuk berpegangan, menawarkan arah untuk kembali pulang, menawarkan lentera dan berkata "Ikuti aku saja!". Entah bagaimana ceritanya hingga dia berjalan sesuai perintah ia, memegang pundaknya dan melangkah bersamanya.
Ketika perjalanan malam itu berakhir, dia berterima kasih atas jalan pulang yang ditawarkan, ia tersenyum ringan dan menyatakan bahwa itu sudah seharusnya ia lakukan, lantas keduanya berpisah tanpa satupun beban. Bagaimanapun, dia tidak menyimpan curiga, tidak terbersit apapun terkait pertemuan mereka━apalagi sampai berpikir akan ada pertemuan selanjutnya.

Meski, ya, tentu saja, mereka bertemu untuk kali kedua dan seterusnya.
Tidak pernah ada kejanggalan memang. Semuanya terasa begitu wajar, seperti apa adanya. Pertemuan mereka terjadi tanpa waktu yang pasti, seringkali pada terangnya pemilik hari, namun tidak menutup pula pada kesempatan sepoi nya sore hari, atau bahkan kembali pada gelapnya hari seperti awal mereka pertama kali bertatap muka. Ia dan Dia bertegur sapa, berbicara, berkelakar, semuanya terjadi begitu saja. Tidak ada yang aneh dari pertemuan mereka, tidak ada ekslusivitas di antara keduanya. Kebersamaan mereka tidak dirindukan, tidak pula perlu dielakkan. Semuanya terjadi tanpa satupun perasaan terlintas di antara mereka━dan ia dan dia tidak pernah mempermasalahkan ada atau tidaknya hal itu di antara mereka.
Tetapi seiring berjalannya waktu, “seperti apa adanya” nampaknya sudah tidak ada lagi di dalam pertemuan ia dan dia.
Berawal dari jauhnya interval pertemuan antara ia dan dia, lantas dia—yang memang perasa—kemudian mendapati ia begitu sering berkeliaran sehingga tidak luput dari dia. Kali ini semuanya terjadi dalam dunia tidak ada, dalam dunia yang awalnya tidak terjamah oleh ia dan dia. Jujur saja, pada pertemuan sebelumnya keduanya tidak begitu lazim dengan pertemuan di sana. Karena tiada gunanya, jika dipikir sekian lama. Dunia tidak ada hanya untuk sesuatu yang picisan dan pertemuan ia dan dia bukanlah suatu yang demikian.
Kemudian, semua terasa kian benar adanya. Pertemuan mereka pada akhirnya kian picisan, semua interaksi mereka terasa manis dan menyenangkan. Ia dan dia berbicara tentang keseharian, tentang perjalanan, tentang mencari dan menemukan, tentang terbit dan tenggelam. Tentang hal-hal yang tidak yang perlu untuk dibicarakan, sehingga apa yang perlu dibicarakan tidak pernah terungkapkan.
Kehadiran ia adalah tanda tanya besar bagi dia, namun dia tidak pernah mau langsung menanyakannya. Melontarkan kata tanya bisa jadi adalah cara paling jitu untuk mengetahui maksud keberadaan mereka, namun sekaligus menghilangkan semuanya. Dia, yang pada awalnya tidak pernah menyimpan kecurigaan, kini hanya tidak ingin kehilangan. Maka semua itu urung juga ditanyakan. Lamat-lamat dia menabung rindu, rindu yang menimbulkan candu, candu yang membuat dia tidak dapat lagi bersikap seperti dahulu. Tidak ada yang tidak dipermasalahkan dari kehadiran ia, tidak ada satupun yang biasa dari ia bagi dia, tidak ada. Pertemuan ia dan dia bukan lagi seperti apa adanya, bukan lagi seperti seharusnya.

Sampai akhirnya tidak ada pertemuan lagi di antara mereka.
Setelah jauh menyelam pada kubangan malam dan pagi, pertemuan ia dan dia hilang sama sekali. Tidak di dunia ada, tidak di dunia tiada, bahkan tidak dunia antara. Dia lantas berusaha untuk menghilangkan kemungkinan pertemuan antara mereka. Meniadakan debar dalam dadanya, mengubur dalam-dalam pertanyaan yang tersimpan dalam pikirannya, lantas kemudian memecahkan celengan rindu yang kini isinya berupa udara malam hari tempat mereka bertemu pertama kali. Celengan berisi dingin dan sepi. Semuanya dilakukannya karena hatinya sudah tidak berbentuk lagi, sudah kehilangan rasa yang tadinya dimunculkan lantas ditinggalkan.
Dia sudah selesai dengan semuanya, bahkan ketika ia mengadakan pertemuan lagi, dia hampir berhasil mengakhirinya dengan kalimat yang tertulis di awal cerita.

Jika saja ia tidak kembali dengan mencari

Ini penting sekali. Tidak ada yang bisa selain kamu. - [sender: ia]
dan Ia selalu tahu, bahwa dia adalah sebuah tempat di mana ia dapat selalu menemukan

Maaf, aku benar-benar tidak bisa meminjamkannya. (delete-delete-delete)

Baiklah, kamu bisa menemuiku malam ini. - [sender: dia]
Oleh karenanya, pertemuan ia dan dia kembali terulang.
Sekalipun dia tahu bahwa untuk mengakhiri mereka adalah dengan tidak mengulang. Sekalipun dia tahu bahwa pengulangan akan menyisakan penyesalan karena semuanya akan kembali menghilang.

Seandainya dia begitu tabah dalam kehilangan.

19012014 || 23:52
Yogyakarta, delapan menit sebelum dua puluh.


-
-
Jadi, kuputuskan kalo ini bukan relatable XD
Fix cuma sekedar short-fiction yang idenya udah berabad-abad lalu dan aseli gatau muncul keinginan buat nyelesaiin ini malem ini, yah, mungkin sekedar pengingat aja kali yathis delapan menit sebelum dua puluh thing or idk whatta call it, lol.
Well, anyway, I got a train to catch. See ya!

Hugz,
Karin.

Once Upon A Dream

12 Agustus 2013






Aku merasa tidak akan pernah ada Surakarta yang lama lagi.

Berbulan, bahkan bertahun yang lalu, perjalanan ke Surakarta tidak pernah seperti ini. Surakarta yang kuingat berbeda, meski jalan menuju kotanya tetap sama. Kendaraan yang kugunakan tiada berbeda, bahkan teman seperjalanan ku pun masih sama. Perjalananku pun disambut dengan wajah kota yang kukenal baik sejak lama. Setiap sudut kota bersahaja, jalanan yang ramai namun menyenangkan, pertokoan langganan yang masih setia menjajakan dagangannya. Surakarta tetap kota yang menyajikan beragam kenangan.






Adalah layang pikirku sudah jauh berbeda, jauh ke batas yang tidak pernah kuduga akan berlayar sampai sana. Kota ini lekat denganmu. Sekalipun memang tidak pernah ada dalam memoriku yang berlabel “Surakarta” dengan namamu. Tidak pernah ada kenanganku akanmu yang terjadi di sini, terlebih tak ada satu waktu kita berada di kota ini. Tapi, mau tidak mau, seluruh pikiranku akan melaju untukmu ketika aku menyusuri kembali setiap sudut kota ini. Hingga tidak ada lagi Surakarta yang kukenal dahulu.

Semua hilang, terkikis kenangan yang tidak pernah terjadi di antara kita.




-
-

Relatable mindset kota, kenangan, pikiran.
Awalnya cuma asal-asalan aja mikir waktu lagi perjalanan pulang dari Solo ke Yogya. Lalu kemudian tertarik untuk bikin relatable baru dari potongan-potongan kenangan(?) meskipun, kapan sih relatable gue gak dari kenangan? =_= /abaikan /orz

Well anyway, Happy Ied 1434H everyone! Minal Aidzin Walfaizin~ o:"D
(ps: image credit, not mine. All from google images)

xoxo,
Karin

Jalan

13 November 2012

Pernahkah terpikir tentang ironi sebuah kenangan?
Yang tercipta hanya dalam jentikan jari, namun berbekas hingga hitungan revolusi bumi.
Begitu sedikit kenangan yang diciptakan, begitu sulit untuk dilupakan.

Dan, bukan,

Aku bukan tidak menemukan jalan kedepan. Hanya saja bergantung pada angan memang nyaman. Diluar dugaan, aku terus menemukan cara bagaimana menikmati sejuta tanda tanya akan sosokmu yang berlarian di kejauhan.

Seandainya kamu juga seperti aku, seandainya kamu juga menemukan jalan untuk memikirkanku.



Aku ingin mengenangmu dengan sabar, mengingatmu dengan debar.
Aku ingin memikirkanmu tanpa sedih yang gencar.
Dengan senyum yang terpancar, sekalipun kita berpencar.

Aku tidak ingin menjadi samar.


 Gejayan, Agustus, 25th 2012. 15:28. with a few additional.

-
-

LOL, another paan-neh-gaje, entah sajak atau semacamnya. But damn, I'm not even good making a sajak tho, anggap saja ini tulisan sambil jalan.
Well, ini emang di buat dalam perjalanan pulang. Habis dengerin entah lagu apa, udah lumayan lama lah waktu perjalanan pulang di mobil dan waktu itu lagi ngilang. Baru sempet publish sekarang karena nge-gabut dan juga udah hampir seminggu ini ilang lagi. Meskipun theme nya cuma kenangan, dan nggak ada relatable lainnya, tapi yasudahlah. Toh a little memories won't bite.

So, have a nice day and long weekend that I couldn't get (again!) all!


(ps: image credits, not mine. All images from google images)





love,

K

When It's Getting Cold, Remember...

19 Oktober 2012

Ia dan Dia sama-sama terbaring di sana.
Malam terlalu dingin untuk dilewatkan seorang diri, sehingga kedua tubuh mereka menjadi tunggal dalam pelukan, yang begitu sayang untuk dilepaskan. Mata mereka terpejam, mereka sama-sama diam. Sama-sama berpikir kemudian tenggelam.
Ada nyaman yang tak wajar dalam hati dia, sementara ada gelisah yang terlalu akrab di dalam diri ia.
Sudah terlalu lama mereka begini, tidak terikat tetapi tak pernah terlepas. Tidak membiarkan hati yang bicara, namun suara keduanya begitu nyala dalam berkata-kata. Ia dan Dia sama-sama menanti, tetapi tak pernah sehati.

Sampai suatu hari,  tiba saatnya ia melepaskan semua pelukan, sementara dia berusaha untuk tak lagi mencari dekapan.

Mereka kedinginan.

 

━ Yogyakarta, 19.10.2012 / 11:18


-
-

Relatable Mindset ━> Diam, Dingin, Ikatan.
Niatnya bukan ngegalau, tapi bikin mini-fanfic. Kenapa jadinya bikin mini-orific bin setengah curcol gini? Mana bikinnya panas-panas gini pula, apanya yang kedinginan =_=
btw, have a nice weekend, everyone!
(ps: image credits, not mine. All images from google images)
 
xoxo,

k
 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS