Tampilkan postingan dengan label Relatable Mindset. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Relatable Mindset. Tampilkan semua postingan

In The Middle of Thinking (and Decided That My Head Isn't Really A Good Place for Thinking)

10 Agustus 2014


*BY THE WAY, pls ignore the last box!!! lawl :''D*
(image credits : 9gag)

So whats changed?
Hampir tidak ada. Langitnya tetap biru, dindingku tetap bisu, dan hati dia tetap beku. Justru saya kini berusaha ekstra keras agar tidak ada yang berubah. Saya terpaksa untuk membuktikan kebenaran dari inersia­—bahwa benda memiliki kecenderungan untuk mempertahankan keadaannya, menolak perubahan terhadap keadaan geraknya atau diamnya. Mempertahankan posisi semulanya. Satu hal yang tidak boleh terlupakan dari inersia adalah bahwa benda tegar selalu memiliki inersia lebih besar.
Saya harus membuktikan bahwa saya cukup tegar.

Did they ever really loved you?
Ya, Bisa jadi, Tidak. Pertanyaan ini mengingatkan saya pada game show televisi yang sempat terkenal tempo hari. Games di mana kita harus memberondong lawan bicara kita dengan begitu banyak pertanyaan, sementara mereka hanya menjawab dengan tiga kata tersebut. Setelah saya pikir, seperti itulah perasaan saya pada dia. Saya tidak pernah melontarkan pertanyaan untuk dia, dan dia tidak pernah menjawab apapun untuk saya. Tetapi saya punya jutaan pertanyaan dalam kepala yang selalu berakhir dengan "Ya, namun bisa jadi tidak."
Saya tidak pernah menyatakan apa-apa, dia tidak pernah menjawab apa-apa. Sejauh yang saya tahu, dia hanya menjawab "Iya" untuk ia. Sementara ia, saya rasa ia begitu menyukai keadaan "Bisa Jadi" saja. Wajar, sejauh ini dunia seakan berotasi mengelilinginya. Semoga saja ia sadar bahwa rotasi bumi sekalipun akan berhenti jika memang sudah waktunya.
Saya tidak tahu apakah ini pemikiran gegabah atau tidak, yang jelas, saya ingin keduanya menjawab "Tidak" untuk saya.

Has anyone ever really loved you?
... Jujur, setelah saya banyak menyelam dalam pikiran saya sendiri, pertanyaan ini adalah pertanyaan yang kerap muncul dalam benak saya. Mendapatkan pertanyaan ini saya justru ingin balik bertanya. Adakah?
Saya ini kelewat pesimistik, bahkan untuk diri saya sendiri.

Saya terbiasa menciptakan tanda tanya setelah menerima suatu fakta. Pada dasarnya, saya selalu membiasakan diri untuk berhenti sejenak ketika menyadari bahwa saya tengah berdiri pada sisi yang sama dengan orang lain. Ketika semua orang percaya bahwa suatu hal adalah kebenaran, saat itu pula saya meragu dan bertanya, apa iya?

Kadang, satu pertanyaan saja bisa sangat menggelitik dalam pikiran saya. Kini, saya mendapatkan tiga.

Saya ingin mengutuk diri saya.

-
-
Relatable Mindset Pertanyaan, Saya, Pikiran.
SO ITS CRYSTAL I'M NOT BITTER CAUSE I'M NEUTERED x"D
But those fanart (is it even counted as a fanart? or maybe cartoon then?), did really made me stop and think; and decided to write something about it.
I actually dunno where the hell this is started (and also, I don't really think this one is a relatable things), but let's just said that something unfortunate has happened. Somethings that I presume as inevitably since from the beginning, but still it would give you a bitter sting when its actually happened.

The last part caught me, tho. Has anyone out there ever really loved you? Maybe you're just unlovable.

Bisa jadi.

Xoxo,
K

Constellations

15 Januari 2014

At the end, even with a drifted path or some interval, gravity always pull the earth and sun under one certain constellation.

 


Kadang, saya ingin berpikir bahwa semestalah yang sengaja menyatukan...
Anggaplah saya mengumpakan kita. Ya, saya dan kamu. Umpamakan kita itu ada, kita itu sedang, kita itu memang. Saya ingin mengumpakan kita sebagai matahari yang selalu pulang pada bumi. Matahari dan bumi selalu kembali. Sekalipun gelapnya malam sudah merajai, sekalipun dinginnya malam tak terelakkan lain. Kita kembali pada pagi.

Kita akan selalu bersama meski berjeda.
Peranmu adalah matahari dan peranku bumi. Matahari akan selalu kembali menyinari dan bumi akan selalu menyambutnya dengan pagi. Kita ini konstelasi.




Namun aku terlalu buta akan konsepsi, sampai melupakan kontelasi tidak akan terjadi tanpa gravitasi. Kita tidak terjadi tanpa kenyataan. Kita hanya perumpaaman. Mungkin syaa yang terlalu keras kepala dengan terus menyatakan bahwa kita ini takdir Tuhan.

Semesta tidak pernah menyatukan apa-apa.


-
-

Relatable mindset  Semesta, Konstelasi, Kita.
Kayaknya sih ini akibat dipikir sambil kebanyakan nonton Star Trek, DUH. Habisan jadi yang diomongin soal konstelasi, matahari, bumi, lalala yeyeye -__- Hmmm, tapi sih selain itu, ini juga follow up dari beberapa kejadian(?) dan tweets beberapa waktu yang lalu. Intinya, jadi kepingin banget bikin relatable mindset dengan aliran universe deh :3
Well, gotta admit that this is the most unsatisfying relatable i've ever made, pfft.
(ps: image credits, not mine. All from googles)

Till then,
K

Infinito

7 Januari 2014

Betapa tidak akan menguji ketabahan, jika sesuatu yang sudah seolah-olah seperti cinta masih juga tidak memberi jaminan kebahagiaan?
 Seno Gumira Ajidarma, dalam Linguae


Pertanyaannya sekarang mungkin sesimpel ketabahan seperti apa yang diharapkan dari cinta? Apakah akhir yang bahagia? Ataukah sekadar menikmati hadirnya, lantas bersyukur atasnya?
Cinta itu sederhana, demikian pula dengan kebahagiaan. Perkara berbahagia itu sederhana, itu kata mereka yang cukup bijak untuk berpikir layaknya filsuf kawakan. Tetapi kenyataannya kehidupan tidak sesederhana apa yang dikira, cinta dan bahagia tidak sesederhana stigma yang tertanam dalam kata.
Bagi saya, cinta dan bahagia itu sakral. Tanpa maksud meniadakan apresiasi terhadapnya, namun kenapa kita harus mengerucutkan sesuatu yang besar maknanya?
Dan, jika saya boleh jujur, tanpa jaminan kebahagiaan itu sekalipun, saya tetap tabah. Ketabahan saya tidak terkait dengan akhir yang bahagia, atau pun menemukan pemikiran cukup puas dengan kehadirannya. Ketabahan saya ini sederhana, sesederhana berharap untuk dapat menghadapi kenyataan dan mencari titik temu antara Saya, Kamu, dan Hal-hal yang belum selesai di antara kita.
-
-
Relatable mindset Sederhana, Cinta, Bahagia.
HARUSNYA SIH HARUSNYA, ini sekarang ngerjain HKD atau minimal belajar karena masih dalam lingkup UAS, bukan ala-ala bikin relatable-blah-blah gini, pffttt.
Well, have a good fight for those who still have test and happy holiday for those who already passed the final week.

Smooch,
K

Once Upon A Dream

12 Agustus 2013






Aku merasa tidak akan pernah ada Surakarta yang lama lagi.

Berbulan, bahkan bertahun yang lalu, perjalanan ke Surakarta tidak pernah seperti ini. Surakarta yang kuingat berbeda, meski jalan menuju kotanya tetap sama. Kendaraan yang kugunakan tiada berbeda, bahkan teman seperjalanan ku pun masih sama. Perjalananku pun disambut dengan wajah kota yang kukenal baik sejak lama. Setiap sudut kota bersahaja, jalanan yang ramai namun menyenangkan, pertokoan langganan yang masih setia menjajakan dagangannya. Surakarta tetap kota yang menyajikan beragam kenangan.






Adalah layang pikirku sudah jauh berbeda, jauh ke batas yang tidak pernah kuduga akan berlayar sampai sana. Kota ini lekat denganmu. Sekalipun memang tidak pernah ada dalam memoriku yang berlabel “Surakarta” dengan namamu. Tidak pernah ada kenanganku akanmu yang terjadi di sini, terlebih tak ada satu waktu kita berada di kota ini. Tapi, mau tidak mau, seluruh pikiranku akan melaju untukmu ketika aku menyusuri kembali setiap sudut kota ini. Hingga tidak ada lagi Surakarta yang kukenal dahulu.

Semua hilang, terkikis kenangan yang tidak pernah terjadi di antara kita.




-
-

Relatable mindset kota, kenangan, pikiran.
Awalnya cuma asal-asalan aja mikir waktu lagi perjalanan pulang dari Solo ke Yogya. Lalu kemudian tertarik untuk bikin relatable baru dari potongan-potongan kenangan(?) meskipun, kapan sih relatable gue gak dari kenangan? =_= /abaikan /orz

Well anyway, Happy Ied 1434H everyone! Minal Aidzin Walfaizin~ o:"D
(ps: image credit, not mine. All from google images)

xoxo,
Karin

House

18 November 2012


I want to go anywhere, get lost, as far as I can... with you...
Then I realize that what we need is a destination; a house.
By the time I realize, that's the time you left me in this empty road, with a thousands keys.
You told me that you will wait for me inside the house, when you never told me which house.
You left right away.

Yes, I try to find the house. But my minds keep bugging...

There's so many locked doors before I could got inside the house.
There's so many keys to match with the doors so it could be unlocked.
And you never help me to find the right key to open the door.
You never help me to get inside the house.
 

I'm tired staring at the doors meanwhile what I need is getting inside the house....


But, actually, how to go inside the house when the track of finding the doorthe track of finding youhave also disappeared?



Now I don't see the houses, I don't even see at the doors that I've been waiting to be unlocked. It all disappeared. I left alone in the middle of nowhere, blinded by my mind, lost in the empty road that I've choose to wait for someone who will bring me to the right house.
I don't see you anymore; and I feel so lost.




That was so fast, do I already clearly forgotten?
Or am I never existed in your mind?
I don't think you'll ever wanted to be with me.

-
-

Relatable mindset kunci, pintu, jalan, dan rumah.
Udah lama sebenernya pingin bikin analogi dari kode-kode ini, tapi nggak pernah sempet ;p dan kebetulan hujan minggu ini /halah/ bisa menciptakan kesyahduan sampe bisa menelurkan yang entah apalah ini sajak, roman, atau apa, short-fiction sih jelas bukan, haha.

(ps: image credits, not mine. All from google images)


xoxo,

K

When It's Getting Cold, Remember...

19 Oktober 2012

Ia dan Dia sama-sama terbaring di sana.
Malam terlalu dingin untuk dilewatkan seorang diri, sehingga kedua tubuh mereka menjadi tunggal dalam pelukan, yang begitu sayang untuk dilepaskan. Mata mereka terpejam, mereka sama-sama diam. Sama-sama berpikir kemudian tenggelam.
Ada nyaman yang tak wajar dalam hati dia, sementara ada gelisah yang terlalu akrab di dalam diri ia.
Sudah terlalu lama mereka begini, tidak terikat tetapi tak pernah terlepas. Tidak membiarkan hati yang bicara, namun suara keduanya begitu nyala dalam berkata-kata. Ia dan Dia sama-sama menanti, tetapi tak pernah sehati.

Sampai suatu hari,  tiba saatnya ia melepaskan semua pelukan, sementara dia berusaha untuk tak lagi mencari dekapan.

Mereka kedinginan.

 

━ Yogyakarta, 19.10.2012 / 11:18


-
-

Relatable Mindset ━> Diam, Dingin, Ikatan.
Niatnya bukan ngegalau, tapi bikin mini-fanfic. Kenapa jadinya bikin mini-orific bin setengah curcol gini? Mana bikinnya panas-panas gini pula, apanya yang kedinginan =_=
btw, have a nice weekend, everyone!
(ps: image credits, not mine. All images from google images)
 
xoxo,

k
 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS